Pagi. Pukul tujuh. Aku masih terkapar di atas pembaringan. Tirai sudah terbuka. Matahari pun tidak lagi sekadar mengintip dari jendela. Aku silau. Perlahan-lahan kuberanikan mataku menantang matahari.
Namun, mataku menyerah kalah. Pelan tapi pasti, mataku terpejam kembali. Rasanya bantal, guling, serta kasur ini semakin empuk dan nikmat. Sarung tipis pun terasa hangat. Kalau ini makanan, hmm... Sungguh lezat.
Siang. Pukul sebelas. Entah ada urusan apa, tetapi yang pasti rasa kantukku telah pergi. Mungkin ia akan kembali lagi nanti malam. Atau esok pagi. Entahlah. Yang pasti aku takkan memaksanya kembali siang ini. Sekarang kepalaku terlalu pusing untuk kembali bergelut dengannya.
Aku bangkit dari tidur. Masih terduduk. Mataku sudah benar-benar terbuka kali ini. Ya, meski kesadaranku pun belum seutuhnya sempurna.
Dinding ruang ini masih berwarna putih. Meja, kursi, dan lemari masih terbuat dari kayu. Pintu dan jendela masih utuh. Tumpukan buku-buku masih saling tumpang tindih. Kertas berhamburan. Pakaian berceceran. Dan sampah, tentu saja tidak pada tempatnya. Sungguh, tak ada satu senti pun lahan bagi lantai keramik untuk menunjukkan dirinya. Ah, tapi syukurlah. Aku masih berada di dunia yang selama ini aku tinggali.
Samar-samar kudengar telepon genggamku bergetar. Entah ada di mana, tetapi tetap kucari dengan sabar. Iya, tunggu sebentar. Nah, itu dia, dan benar. Segera kutekan tombol answer agar ia berhenti bergetar.
Ketika kutempelkan telepon itu ke telingaku, seketika itu pula sang penelepon mengakhiri panggilannya. Huh. Dasar. Cuma missed call.
Missed call, yang dalam bahasa Indonesia berarti ‘panggilan tak terjawab’, sejatinya adalah panggilan yang tidak sempat dijawab oleh orang yang ditelepon. Namun, sepertinya sekarang telah mengalami pergeseran makna. Dalam kasus ini, maknanya bukan lagi ‘panggilan tak terjawab’ melainkan ‘panggilan yang tak mau dijawab’. Tujuannya beragam. Mulai dari iseng hingga meminta agar orang yang ditelepon menelepon balik.
Penelepon tadi sepertinya memintaku untuk meneleponnya kembali. Ah, sayang sekali... Kamu kurang beruntung... Bukannya tidak mau, tetapi kali ini aku tak sanggup membayar biaya administrasi untuk berbicara denganmu di telepon. Maaf, mungkin lain kali kamu bisa coba lagi.
Siang. Pukul duabelas. Sulit kupercaya. Aku telah melewati satu jam atau sama dengan enampuluh menit atau sama juga dengan tigaribu enamratus detik dengan melakukan hal yang tidak jelas sama sekali. Dan aku masih terduduk hingga saat ini.
Sungguh aku tak mempunyai hasrat untuk keluar dari kamar tidur ini. Namun, rasanya para penghuni kamar mandi sedang berusaha menarik-narik kakiku. Mereka merayuku. Mengajakku untuk berkunjung ke kediaman mereka. Ya. Baiklah. Dengan sekuat tenaga aku menggerakkan kaki yang tiba-tiba terasa berat.
Kuraih handuk yang tergantung di belakang pintu. Oke. Saatnya mandi, mandi, dan mandi. Tiba-tiba aku teringat suatu kali pernah kubaca sebuah artikel di majalah yang menyatakan, mandi dengan shower bisa menghemat air daripada menggunakan gayung. Kupikir itu benar. Apalagi sekarang kita dikhawatirkan dengan pemanasan global. Untuk mengatasi hal itu, kita pun harus menghemat sumber daya alam karena bumi harus diselamatkan.
Namun, apa daya. Sumber daya manusia yang satu ini (baca: diriku sendiri) juga harus menyelamatkan diri terlebih dahulu. Bukannya aku egois, tapi itulah kenyataannya. Gencatan ekonomilah yang menghalangiku menyelamatkan bumi. Mandi dengan shower bisa menghemat air daripada menggunakan gayung, tapi kalian juga tahu, harga gayung jauh lebih hemat daripada shower. Jadi?
Lantai kamar mandi masih kering. Pertanda bahwa tidak ada orang lain yang ditarik oleh para penghuni kamar mandi. Dan ternyata, ember pun kering. Gayung pun kering. Ketika kuputar keran air, air yang keluar pun tidak lebih besar dari sedotan. Betapa niat baik selalu dilancarkan oleh Tuhan. Niatku menghemat air terlaksana sudah.
Seketika aku kaget. Heran. Bingung. Entah dari mana tiba-tiba muncul orang lain di kamar mandi ini. Pintu tertutup. Aku bergidik. Sejenak aku terdiam. Kini kagetku telah sedikit padam. Namun heran dan bingung masih mendekam. Kupandangi wajah kusut yang ada di hadapanku kini. Seperti pernah kulihat. Bahkan sangat kukenal.
“Hei, siapa kamu?”
“Tidakkah kau kenal aku?”
“Sepertinya. Mungkin.”
“Aku adalah kamu.”
“Hahaha... Bisa saja. Jangan bercanda, ah.”
“Ya. Aku adalah kamu.”
“Kamu? Aku? Mana mungkin.”
“Benar. Aku adalah kamu.”
“Kamu? Aku? Tidak mungkin.”
“Ya. Benar. Aku adalah kamu.”
“Jangan berbohong.”
“Aku tidak bohong.”
“Jangan berdusta.”
“Aku tidak berdusta.”
“Jangan menipu.”
“Aku tidak menipu.”
“Jangan membual.”
“Aku tidak membual.”
“Aku tidak percaya.”
“Percayalah.”
“Aku tidak bisa percaya padamu.”
“Mengapa?”
“Karena kamu pembohong.”
“Aku bukan pembohong.”
“Kalau begitu kamu pendusta.”
“Aku juga bukan pendusta.”
“Kalau kamu bukan pembohong, bukan pendusta, berarti kamu penipu.”
“Aku bukan pembohong. Aku juga bukan pendusta. Dan aku juga bukan penipu.”
“Hahaha... Bukan pembohong, bukan pendusta, bukan penipu. Dasar pembual!”
“Hei! Sudah kukatakan, aku bukan pembohong, pendusta, atau pun penipu. Apalagi pembual!”
“Dasar keras kepala!”
“Kalau begitu kamu juga!”
“Aku tidak keras kepala! Cuma kamu!”
“Tapi aku adalah kamu!”
“Ah! Jangan berbohong!”
“Aku tidak pernah berbohong!”
“Tapi kamu selalu berdusta!”
“Aku tidak pernah berdusta!”
“Kamu pasti pernah menipu!”
“Aku tidak pernah menipu!”
“Hahaha... Tidak pernah berbohong, tidak pernah berdusta, tidak pernah menipu... Kamu sering membual!”
“Hei! Sudah kukatakan, aku tidak pernah berbohong, tidak pernah berdusta, tidak pernah menipu, apalagi sering membual!”
“Dasar keras kepala!”
“Terserah kamu!”
“Ya! Memang terserah aku!”
“Ya! Terserah kau kepala batu!”
“Aku bukan kepala batu!”
“Ya! Kepalamu memang bukan batu! Tapi lebih keras dari itu!”
“Apa yang lebih keras dari batu? Hah?!”
“Ya kepalamu itu!”
“Berarti kepalamu juga!”
“Enak saja!”
“Memang enak!”
“Tidak!”
“Kalau tidak enak buang!”
“Kepalamu saja tuh yang dibuang!”
“Kepalamu!”
“Hei, kepalamu ya kepalamu. Kepalaku ya kepalaku!”
“Tadi kau bilang kamu adalah aku. Kalau begitu, kepalaku ya kepalamu! Kepalamu ya kepalaku!”
“Aku tidak pernah bicara seperti itu!”
“Apa kau bilang?”
“Aku tidak pernah bicara seperti itu!”
“Hei, aku tidak tuli! Tak usah kau ulang perkataanmu!”
“Aku tahu. Tapi kau meminta aku mengulang kata-kataku!”
“Aku tidak pernah meminta!”
“Apa kau bilang?”
“Aku tidak pernah meminta!”
“Hei, aku tidak tuli! Tak usah kau ulang perkataanku!”
“Aku tahu. Tapi kau meminta aku mengulang kata-kataku!”
“Kata-katamu? Halo? Itu kata-kataku!”
“Kata-katamu? Sejak kapan?”
“Sejak aku berkata-kata dan kau mengikuti semua kata-kataku!”
“Aku tidak pernah mengikuti kata-katamu!”
“Oh, ya? Lalu apa yang katakan tadi?”
“Kau tidak perlu tahu!”
“Oh, begitu. Aku tidak perlu tahu. Kalau begitu mulai sekarang kau berhenti mencari-cari tahu tentang aku!”
“Aku tidak pernah mau tahu!”
“Aku tidak percaya padamu!”
“Begitu pula dengan aku! Tak akan!”
“Hati-hati kalau bicara! Kalau suatu saat kau percaya padaku, awas ya!”
“Ya! Tak akan! Kalau aku ingkar silakan iris telingaku!”
“Ogah!”
“Mengapa? Takut?”
“Untuk apa aku takut padamu? Tak akan!”
“Hati-hati kalau bicara! Kalau suatu saat kau takut padaku, awas ya!”
“Ya! Tak akan! Kalau aku ingkar silakan iris telingaku!”
“Ogah!”
“Mengapa? Takut?”
“Untuk apa aku takut padamu? Tak guna!”
“Lebih-lebih dirimu! Sangat tidak berguna!”
“Diriku? Dirimu maksudnya?”
“Diriku ya diriku, dirimu ya dirimu!”
“Tadi kau bilang kamu adalah aku. Kalau begitu, diriku ya dirimu, begitu juga sebaliknya!”
“Ah, masa?!”
“IYA, CERMIN GILA!”
Ruang, 20 Juli 2010.