Showing posts with label cerita pendek. Show all posts
Showing posts with label cerita pendek. Show all posts

11.7.11

sering nonton tv tapi nggak tau apa yang mau ditonton?
akhirnya cuma pencet-pencet remot pindah-pindah kanal tv?
haa.. pasti sering.

yah, begitulah. tadi gue pun begitu. bingung mau nonton apa. jadi ya kerjanya cuma pencet ini pencet itu pindah sini pindah situ. kalo remot tv bisa gerak, mungkin gue udah digetok karena dia kesel. huhuhu..

hmm.. jadi tadi itu ditengah kegalauan gue mau nonton apa (cih, nonton tv aja galau) gue akhirnya nonton salah satu acara yang nampilin kisah-kisah mengharukan gitu. salah satu cerita yang bagus menurut gue adalah yang ini nih. eng ing eng..
seorang anak laki-laki datang ke sebuah petshop. dia dateng sambil nenteng-nenteng celengan ayam yang tentu aja isinya duit hasil dia nabung.

di antara semua hewan peliharaan yang lucu-lucu dan sehat-sehat, si anak laki-laki ini milih seekor anak anjing. akan tetapi, anak anjing ini nggak kayak yang lainnya karena dia cacat. si anak laki-laki pun nanya harganya berapa ke penjaga tokonya.

"saya kasih adek aja. gratis. nggak usah bayar."
"lho, kok gitu, mbak. emang kenapa? saya mau beli."
"adek yakin mau beli yang itu? dia cacat, dek. dia nggak bisa lari, nggak bisa lompat. saya kasih adek aja, deh. gratis. nggak usah bayar."
"saya yakin, mbak. saya juga nggak bisa lari, nggak bisa lompat. saya nggak mau gratis, saya mau beli. hanya karena dia cacat, bukan berarti dia nggak ada harganya.."
sekian ah nggak pake epilog.

28.2.11

Karosel.






Kau tahu, karosel, mmm komidi putar in Bahasa,
di pasar malam yang ada di sini, tidak secantik ini.
(itu pun kalau menurutmu karosel ini cantik!)
Namun, bagi yang menikmati, sesederhana apa pun,
akan terasa sangat..



1996.

Sabtu malam.

Karena esok Minggu, yang artinya hari libur sekolah, biasanya aku dan teman-teman ramai berkumpul. Kadang kami bersepeda malam hari mengitari komplek, berlari-lari dalam permainan tak jongkok, bersembunyi di gang-gang gelap lalu ada yang berteriak mencari, bermonopoli, atau sekadar bercengkerama ketika televisi sedang menyala.

Sabtu malam.

Kali ini jalanan sepi. Mmm.. Mungkin orang-orang sedang pergi?

Aku dan ayah berjalan menelusuri lapangan bola yang kini menjelma pasar malam sambil menikmati gula-gula kapas. Ayah baik sekali karena memperbolehkanku makan gula-gula kapas. Kalau ibu tahu, ibu pasti langsung marah dan bilang, "Jangan jajan itu! Nanti kamu batuuukk!". Hihihi, tapi ibu tidak ikut jalan-jalan bersama aku dan ayah, jadi aku tidak dimarahi! Ah, senang sekali!

Di pasar malam ini, banyak sekali arena permainan. Sepertinya menyenangkan. Ada Rumah Hantu, Bianglala, Roda-roda Gila, dan..

"Ayah! Aku mau naik itu! Kuda-kudaan!"
"Boleh, Syan. Tapi ayah tidak bisa ikut naik."
"Ah, kenapa? Ayo, ayah naik juga!"
"Karena ayah.."

Aku tersenyum kecil ketika ayah menggembungkan pipinya lalu berlagak seperti atlet sumo. "Hihihi.. Ayah gendut!"

Akhirnya aku naik dan duduk di atas pelana kuda tanpa ditemani ayah. Dengan sedikit takut aku pegangi tiang yang "menancap" di tubuh kuda itu. Kuda warna-warni. Lampu warna-warni. Warna-warna solid yang sedikit norak.

Komidi bergerak perlahan. Aku melihat ayah di pinggir arena. Aku lambaikan tangan. Aku tersenyum cengengesan. Komidi berputar. Berputar dan berputar..

"Ayah, akulah si koboi ciliiiiiikk!!"


2002.

Senja mulai menyelimuti langit. Hari segera berganti menjadi malam. Sudah sedari pagi kami menghibur diri di Dunia Fantasi.

"Syan, ayo pulang!"
"Iya, iya. Ntar dulu.."
"Ayo cepetan! Ngapain sih ngeliatin komidi puter itu? Jangan bilang mau naik itu? Ih, kayak anak kecil aja deh!"

Tergesa aku menyusul temanku yang berjalan lebih dulu. Sambil tetap menoleh ke belakang, menatap karosel cantik itu. Menyala.


2011.



Kupandangi benda itu.
Kuputar tuas yang ada di sisi benda itu.
Musik mengalun. Kuda-kuda berputar.
Karosel, aku rindu komidi putar.






Sja. 28211.

24.7.10

MIRROR MIRROR HANGING ON THE WALL...

Pagi. Pukul tujuh. Aku masih terkapar di atas pembaringan. Tirai sudah terbuka. Matahari pun tidak lagi sekadar mengintip dari jendela. Aku silau. Perlahan-lahan kuberanikan mataku menantang matahari.

Namun, mataku menyerah kalah. Pelan tapi pasti, mataku terpejam kembali. Rasanya bantal, guling, serta kasur ini semakin empuk dan nikmat. Sarung tipis pun terasa hangat. Kalau ini makanan, hmm... Sungguh lezat.

Siang. Pukul sebelas. Entah ada urusan apa, tetapi yang pasti rasa kantukku telah pergi. Mungkin ia akan kembali lagi nanti malam. Atau esok pagi. Entahlah. Yang pasti aku takkan memaksanya kembali siang ini. Sekarang kepalaku terlalu pusing untuk kembali bergelut dengannya.

Aku bangkit dari tidur. Masih terduduk. Mataku sudah benar-benar terbuka kali ini. Ya, meski kesadaranku pun belum seutuhnya sempurna.

Dinding ruang ini masih berwarna putih. Meja, kursi, dan lemari masih terbuat dari kayu. Pintu dan jendela masih utuh. Tumpukan buku-buku masih saling tumpang tindih. Kertas berhamburan. Pakaian berceceran. Dan sampah, tentu saja tidak pada tempatnya. Sungguh, tak ada satu senti pun lahan bagi lantai keramik untuk menunjukkan dirinya. Ah, tapi syukurlah. Aku masih berada di dunia yang selama ini aku tinggali.

Samar-samar kudengar telepon genggamku bergetar. Entah ada di mana, tetapi tetap kucari dengan sabar. Iya, tunggu sebentar. Nah, itu dia, dan benar. Segera kutekan tombol answer agar ia berhenti bergetar.

Ketika kutempelkan telepon itu ke telingaku, seketika itu pula sang penelepon mengakhiri panggilannya. Huh. Dasar. Cuma missed call.

Missed call, yang dalam bahasa Indonesia berarti ‘panggilan tak terjawab’, sejatinya adalah panggilan yang tidak sempat dijawab oleh orang yang ditelepon. Namun, sepertinya sekarang telah mengalami pergeseran makna. Dalam kasus ini, maknanya bukan lagi ‘panggilan tak terjawab’ melainkan ‘panggilan yang tak mau dijawab’. Tujuannya beragam. Mulai dari iseng hingga meminta agar orang yang ditelepon menelepon balik.

Penelepon tadi sepertinya memintaku untuk meneleponnya kembali. Ah, sayang sekali... Kamu kurang beruntung... Bukannya tidak mau, tetapi kali ini aku tak sanggup membayar biaya administrasi untuk berbicara denganmu di telepon. Maaf, mungkin lain kali kamu bisa coba lagi.

Siang. Pukul duabelas. Sulit kupercaya. Aku telah melewati satu jam atau sama dengan enampuluh menit atau sama juga dengan tigaribu enamratus detik dengan melakukan hal yang tidak jelas sama sekali. Dan aku masih terduduk hingga saat ini.

Sungguh aku tak mempunyai hasrat untuk keluar dari kamar tidur ini. Namun, rasanya para penghuni kamar mandi sedang berusaha menarik-narik kakiku. Mereka merayuku. Mengajakku untuk berkunjung ke kediaman mereka. Ya. Baiklah. Dengan sekuat tenaga aku menggerakkan kaki yang tiba-tiba terasa berat.

Kuraih handuk yang tergantung di belakang pintu. Oke. Saatnya mandi, mandi, dan mandi. Tiba-tiba aku teringat suatu kali pernah kubaca sebuah artikel di majalah yang menyatakan, mandi dengan shower bisa menghemat air daripada menggunakan gayung. Kupikir itu benar. Apalagi sekarang kita dikhawatirkan dengan pemanasan global. Untuk mengatasi hal itu, kita pun harus menghemat sumber daya alam karena bumi harus diselamatkan.

Namun, apa daya. Sumber daya manusia yang satu ini (baca: diriku sendiri) juga harus menyelamatkan diri terlebih dahulu. Bukannya aku egois, tapi itulah kenyataannya. Gencatan ekonomilah yang menghalangiku menyelamatkan bumi. Mandi dengan shower bisa menghemat air daripada menggunakan gayung, tapi kalian juga tahu, harga gayung jauh lebih hemat daripada shower. Jadi?

Lantai kamar mandi masih kering. Pertanda bahwa tidak ada orang lain yang ditarik oleh para penghuni kamar mandi. Dan ternyata, ember pun kering. Gayung pun kering. Ketika kuputar keran air, air yang keluar pun tidak lebih besar dari sedotan. Betapa niat baik selalu dilancarkan oleh Tuhan. Niatku menghemat air terlaksana sudah.

Seketika aku kaget. Heran. Bingung. Entah dari mana tiba-tiba muncul orang lain di kamar mandi ini. Pintu tertutup. Aku bergidik. Sejenak aku terdiam. Kini kagetku telah sedikit padam. Namun heran dan bingung masih mendekam. Kupandangi wajah kusut yang ada di hadapanku kini. Seperti pernah kulihat. Bahkan sangat kukenal.

“Hei, siapa kamu?”

“Tidakkah kau kenal aku?”

“Sepertinya. Mungkin.”

“Aku adalah kamu.”

“Hahaha... Bisa saja. Jangan bercanda, ah.”

“Ya. Aku adalah kamu.”

“Kamu? Aku? Mana mungkin.”

“Benar. Aku adalah kamu.”

“Kamu? Aku? Tidak mungkin.”

“Ya. Benar. Aku adalah kamu.”

“Jangan berbohong.”

“Aku tidak bohong.”

“Jangan berdusta.”

“Aku tidak berdusta.”

“Jangan menipu.”

“Aku tidak menipu.”

“Jangan membual.”

“Aku tidak membual.”

“Aku tidak percaya.”

“Percayalah.”

“Aku tidak bisa percaya padamu.”

“Mengapa?”

“Karena kamu pembohong.”

“Aku bukan pembohong.”

“Kalau begitu kamu pendusta.”

“Aku juga bukan pendusta.”

“Kalau kamu bukan pembohong, bukan pendusta, berarti kamu penipu.”

“Aku bukan pembohong. Aku juga bukan pendusta. Dan aku juga bukan penipu.”

“Hahaha... Bukan pembohong, bukan pendusta, bukan penipu. Dasar pembual!”

“Hei! Sudah kukatakan, aku bukan pembohong, pendusta, atau pun penipu. Apalagi pembual!”

“Dasar keras kepala!”

“Kalau begitu kamu juga!”

“Aku tidak keras kepala! Cuma kamu!”

“Tapi aku adalah kamu!”

“Ah! Jangan berbohong!”

“Aku tidak pernah berbohong!”

“Tapi kamu selalu berdusta!”

“Aku tidak pernah berdusta!”

“Kamu pasti pernah menipu!”

“Aku tidak pernah menipu!”

“Hahaha... Tidak pernah berbohong, tidak pernah berdusta, tidak pernah menipu... Kamu sering membual!”

“Hei! Sudah kukatakan, aku tidak pernah berbohong, tidak pernah berdusta, tidak pernah menipu, apalagi sering membual!”

“Dasar keras kepala!”

“Terserah kamu!”

“Ya! Memang terserah aku!”

“Ya! Terserah kau kepala batu!”

“Aku bukan kepala batu!”

“Ya! Kepalamu memang bukan batu! Tapi lebih keras dari itu!”

“Apa yang lebih keras dari batu? Hah?!”

“Ya kepalamu itu!”

“Berarti kepalamu juga!”

“Enak saja!”

“Memang enak!”

“Tidak!”

“Kalau tidak enak buang!”

“Kepalamu saja tuh yang dibuang!”

“Kepalamu!”

“Hei, kepalamu ya kepalamu. Kepalaku ya kepalaku!”

“Tadi kau bilang kamu adalah aku. Kalau begitu, kepalaku ya kepalamu! Kepalamu ya kepalaku!”

“Aku tidak pernah bicara seperti itu!”

“Apa kau bilang?”

“Aku tidak pernah bicara seperti itu!”

“Hei, aku tidak tuli! Tak usah kau ulang perkataanmu!”

“Aku tahu. Tapi kau meminta aku mengulang kata-kataku!”

“Aku tidak pernah meminta!”

“Apa kau bilang?”

“Aku tidak pernah meminta!”

“Hei, aku tidak tuli! Tak usah kau ulang perkataanku!”

“Aku tahu. Tapi kau meminta aku mengulang kata-kataku!”

“Kata-katamu? Halo? Itu kata-kataku!”

“Kata-katamu? Sejak kapan?”

“Sejak aku berkata-kata dan kau mengikuti semua kata-kataku!”

“Aku tidak pernah mengikuti kata-katamu!”

“Oh, ya? Lalu apa yang katakan tadi?”

“Kau tidak perlu tahu!”

“Oh, begitu. Aku tidak perlu tahu. Kalau begitu mulai sekarang kau berhenti mencari-cari tahu tentang aku!”

“Aku tidak pernah mau tahu!”

“Aku tidak percaya padamu!”

“Begitu pula dengan aku! Tak akan!”

“Hati-hati kalau bicara! Kalau suatu saat kau percaya padaku, awas ya!”

“Ya! Tak akan! Kalau aku ingkar silakan iris telingaku!”

“Ogah!”

“Mengapa? Takut?”

“Untuk apa aku takut padamu? Tak akan!”

“Hati-hati kalau bicara! Kalau suatu saat kau takut padaku, awas ya!”

“Ya! Tak akan! Kalau aku ingkar silakan iris telingaku!”

“Ogah!”

“Mengapa? Takut?”

“Untuk apa aku takut padamu? Tak guna!”

“Lebih-lebih dirimu! Sangat tidak berguna!”

“Diriku? Dirimu maksudnya?”

“Diriku ya diriku, dirimu ya dirimu!”

“Tadi kau bilang kamu adalah aku. Kalau begitu, diriku ya dirimu, begitu juga sebaliknya!”

“Ah, masa?!”

“IYA, CERMIN GILA!”

Ruang, 20 Juli 2010.

25.3.10

cerita tentang hujan

kamis, 25 maret 2010.

02:19 am.

beberapa jam yang lalu turun hujan. lebat, tidak cuma sekelebat. guruh gemuruh itu tentulah sampai pada telingaku yang hanya mampu menangkap gelombang audiosonik. untunglah aku berada di dalam kamarku. cukup hangat. jadi, aku tidak perlu tersiksa jika dingin menusuk dada sebelah kiriku.

aku suka aroma hujan. khas. air hujan yang jatuh dari langit-langit langit bertumbukkan dengan tanah, batu, dan rumput. menghasilkan aroma yang begitu sedap. keluarlah. pejamkan mata. tarik napas perlahan. hirup dalam-dalam. hembuskan perlahan. buka mata. itulah nikmat.

aku ingat. dulu, sepulang dari mengaji--kira-kira pukul 4 sore--setiap habis hujan reda. aku dan kawanku selalu bersemangat mencari saluran air yang airnya hampir meluap karena sudah tidak cukup menampung air. arusnya deras. cukup deras barangkali. ingin aku melayarkan sebuah perahu kertas. namun, akan repot jadinya jika aku dan kawanku harus mengeluarkan buku dan menyobek kertasnya untuk membuat sebuah perahu. lagipula, perahu kertas pastilah akan segera hancur diterjang air dengan arus yang cukup deras. akhirnya aku mengambil daun-daun yang berjatuhan. daunku dan daun temanku berlomba. daun siapa yang lebih dulu tenggelam, dia yang kalah.

namun, itu dulu. sekarang sudah jarang saluran air yang dapat digunakan untuk memberangkatkan daun-daunku dengan lancar dan cepat. kalau sekarang, daun-daunku mungkin akan terkena macet karena harus berbagi jalur dengan sampah-sampah.

02:51 am.

aku sudah mengantuk. mataku lapar, tergiur oleh empuknya tempat tidur.

semoga esok berjumpa kembali dengan hujan.

11.2.10

Hikayat Makhluk Bodoh binti Ceroboh.

Alkisah pada suatu hari yang cerah Makhluk Bodoh binti Ceroboh membeli pulsa di temannya, ya sebut saja namanya oknum Idaho si Gadis Penjual Pulsa. Dia pesan itu pulsa waktu di kelas Sintaksis. Namun, sudah hampir 2 jam berlalu pulsa yang dimintanya tidak kunjung datang. Akhirnya di akhir kuliah Sastra Melayu Tionghoa atau sebut saja Melati, Makhluk Bodoh binti Ceroboh meminjam HP temannya, Wati Sipiti Al-Kilikili untuk mengirim pesan singkat ke Gadis Penjual Pulsa. Makhluk Bodoh binti Ceroboh ingin menanyakan kabar pulsa yang ia nanti-nantikan. Setelah mengetik pesan itu, Makhluk Bodoh binti Ceroboh menaruh HP itu di atas meja karena dia harus melakukan adegan selanjutnya, mengikat tali sepatu.

Oke. Sampai sejauh ini oke-oke saja.

Sehabis berlala-lili di kelas Melati, Makhluk Bodoh binti Ceroboh keluar dari kelas lalu menju toilet yang letaknya hanya beberapa meter dari kelas Melati. Sesampainya di toilet, dia langsung dihadapkan pada sebuah cermin besar. Saking besarnya, cermin itu pun merefleksikan dengan jelas betapa berantakan sosok di hadapannya. Si Makhluk Bodoh binti Ceroboh pun sadar lalu bergegas merapikan rambutnya. Setelah merasa keberantakannya berkurang walaupun sedikit, ia keluar dari toilet dengan santai.

Oke. Sampai di sini pun masih oke-oke saja.

Makhluk Bodoh binti Ceroboh pun turun menuju lantai 1. Karena ada acara Festival Buku, Makhluk Bodoh binti Ceroboh dan kawan-kawannya pun melihat-lihat dulu. Setelah beberapa lama melihat-lihat, sampailah Makhluk Bodoh binti ceroboh di depan booth koran Kompas. Dia pun berbincang-bincang dengan penjaga booth tersebut.

Singkat cerita, Wati Sipiti Alkilikili yang merasa HP-nya masih berada di tangan Makhluk Bodoh binti Ceroboh pun bertanya, "Eh, Makhluk! HP-ku masih sama Makhluk, kan?"

Tiba-tiba, kebingungan melanda Makhluk Bodoh binti Ceroboh. "Hah? Emang iya? Bukannya tadi udah dikasih lagi, ya?"

Muka Wati Sipiti Alkilikili berubah seketika.

Kini, bukan hanya kebingungan yang menerkam Makhluk Bodoh binti Ceroboh tetapi juga kepanikan, kecemasan, kekhawatiran, ketakutan, dan ke-an ke-an yang lain. Semua bergejolak, bercampur menjadi satu.

Dengan campuran ramuan perasaan yang entah apa namanya itu, Makhluk Bodoh binti Ceroboh pun segera berlari menuju tempat yang diduga sebagai TKP. Di 9310, ruang yang tadi dipakai untuk kelas Melati kini sudah diisi oleh beberapa mahasiswa.

Dengan terbata-bata ia berkata, "Maaf, tadi liat HP yang ketinggalan, nggak?"

Mereka pun menjawab dengan jawaban yang sangat tidak ia harapkan.

"Mau coba misscall-in?" tawar seseorang yang berbaik hati itu.

"Oh, iya deh..."

Tuuut...
Tuuut...
Tuuut...
Tuuut...

Tidak ada bunyi-bunyian. Tidak ada getar-getaran. Tidak ada jawaban.

"Coba tanya sama mas-mas yang jaga, deh..." saran seseorang yang tidak saya ketahui wajahnya seperti apa.

"Oh, yaudah deeeeeehh... Makasih, yaaaa..."

Makhluk Bodoh binti Ceroboh pun semakin memelas.

Begitu keluar dari ruang itu, tiba-tiba ada sesuatu yang terbersit di kepala Makhluk Bodoh binti Ceroboh.

Toilet.

Sigra ia menuju toilet. Dan...

Jengjengjengjeng...

Seonggok benda berwarna hitam tergeletak dalam kesendirian.