Atas dasar kebutuhan mahasiswa jurusan Sastra Indonesia (sekarang menjadi Program Studi Indonesia) akan wadah untuk menampung ekspresi kesenian, khususnya seni pertunjukkan, pada Desember 1984 di Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Rawamangun, Teater Pagupon lahir. Nama Pagupon sendiri diambil dari bahasa Jawa yang artinya 'rumah burung dara'. Seiring perkembangannya, rumah burung dara pun tidak hanya dihuni oleh mahasiswa jurusan Sastra Indonesia, tetapi juga mahasiswa dari jurusan lain, fakultas lain, bahkan universitas lain. Siapa pun dapat bergabung.
Sejak kelahirannya hingga kini, Teater Pagupon telah menyelenggarakan 79 pementasan, baik di dalam kampus, maupun di luar kampus, baik di dalam negeri, maupun di luar negeri. Naskah yang dibawakan pun tidak sebatas pada naskah karya sastrawan luar, tetapi juga sastrawan dalam negeri. Bahkan, seringkali pementasan menggunakan naskah yang dibuat sendiri, seperti trilogi Amanda dan Maksim, yaitu "Lelaki di Bawah" (LDB), "Matahari di Belakang" (MDB), dan "Naluri di Batas" (NDB).
Menyajikan sebuah pementasan bukanlah sebuah hal yang mudah karena sebuah pementasan tidak hanya terdiri atas sutradara dan pemain. Banyak bidang-bidang lain yang sangat penting. Untuk penampil di atas panggung, misalnya, ada pemusik, penyanyi, dan penari. Tim artistik lainnya--atau sering disebut orang belakang panggung--ada manajer panggung, penata panggung dan properti, penata cahaya, penata suara, penata lampu, penata rias, serta penata kostum. Yang tidak kalah penting tentu adalah tim manajerial yang terdiri atas pemimpin produksi, sekretaris, bendahara, tim dana usaha, tim sponsorship, serta tim humas, publikasi, dan dokumentasi. Oleh karena itu, diperlukan koordinasi dan kerja tim yang baik.
Saat ini, Teater Pagupon tengah mempersiapkan pementasan yang akan diselenggarakan pada Mei 2011. Pementasan yang berjudul "Ode Duka Bhisma" (ODB) ini diambil dari kisah Mahabharata. Sang sutradara, Catur Ari Wibowo atau lebih dikenal dengan Mas Ketjak, mengonsepkan pementasan ini sebagai sebuah pementasan sendratari (seni drama dan tari). Ia juga memadukan beberapa jenis seni pertunjukkan tradisional, yaitu ludruk, wayang orang, wayang Madura, dan dalang jemblung ke dalam pementasan ini. Bukan hanya mata yang menikmati sajian drama dan tari, telinga penonton pun akan dimanjakan oleh lagu yang mengalun di setiap babak. Paduan wiraga, wirama, dan wirasa merupakan sebuah keharmonisan yang akan dicapai.
Sangat banyak pelajaran yang dapat diambil ketika kita masuk ke dunia teater. Banyak pelajaran karena kita senantiasa selalu belajar. Banyak pelajaran karena kita adalah pembelajar. Banyak pelajaran karena kita memang butuh belajar. Kita belajar sambil bermain, bermain sambil belajar.
Jadi, sekali lagi, jika ingin bergabung, bergabunglah karena siapa pun dapat bergabung. Dengan senang hati, kami menyambut.

Berjalanlah bersamaku..
Sejak kelahirannya hingga kini, Teater Pagupon telah menyelenggarakan 79 pementasan, baik di dalam kampus, maupun di luar kampus, baik di dalam negeri, maupun di luar negeri. Naskah yang dibawakan pun tidak sebatas pada naskah karya sastrawan luar, tetapi juga sastrawan dalam negeri. Bahkan, seringkali pementasan menggunakan naskah yang dibuat sendiri, seperti trilogi Amanda dan Maksim, yaitu "Lelaki di Bawah" (LDB), "Matahari di Belakang" (MDB), dan "Naluri di Batas" (NDB).
Menyajikan sebuah pementasan bukanlah sebuah hal yang mudah karena sebuah pementasan tidak hanya terdiri atas sutradara dan pemain. Banyak bidang-bidang lain yang sangat penting. Untuk penampil di atas panggung, misalnya, ada pemusik, penyanyi, dan penari. Tim artistik lainnya--atau sering disebut orang belakang panggung--ada manajer panggung, penata panggung dan properti, penata cahaya, penata suara, penata lampu, penata rias, serta penata kostum. Yang tidak kalah penting tentu adalah tim manajerial yang terdiri atas pemimpin produksi, sekretaris, bendahara, tim dana usaha, tim sponsorship, serta tim humas, publikasi, dan dokumentasi. Oleh karena itu, diperlukan koordinasi dan kerja tim yang baik.
Saat ini, Teater Pagupon tengah mempersiapkan pementasan yang akan diselenggarakan pada Mei 2011. Pementasan yang berjudul "Ode Duka Bhisma" (ODB) ini diambil dari kisah Mahabharata. Sang sutradara, Catur Ari Wibowo atau lebih dikenal dengan Mas Ketjak, mengonsepkan pementasan ini sebagai sebuah pementasan sendratari (seni drama dan tari). Ia juga memadukan beberapa jenis seni pertunjukkan tradisional, yaitu ludruk, wayang orang, wayang Madura, dan dalang jemblung ke dalam pementasan ini. Bukan hanya mata yang menikmati sajian drama dan tari, telinga penonton pun akan dimanjakan oleh lagu yang mengalun di setiap babak. Paduan wiraga, wirama, dan wirasa merupakan sebuah keharmonisan yang akan dicapai.
Sangat banyak pelajaran yang dapat diambil ketika kita masuk ke dunia teater. Banyak pelajaran karena kita senantiasa selalu belajar. Banyak pelajaran karena kita adalah pembelajar. Banyak pelajaran karena kita memang butuh belajar. Kita belajar sambil bermain, bermain sambil belajar.
Jadi, sekali lagi, jika ingin bergabung, bergabunglah karena siapa pun dapat bergabung. Dengan senang hati, kami menyambut.

Berjalanlah bersamaku..
No comments:
Post a Comment