25.3.11

Kamu Terjebak dalam Panggung Kematian

Selamat datang selama kamu datang dengan selamat. Selamat datang selama datang masih bisa diselamatkan. Selamat datang selama selamat masih bisa datang.

Kamu telah sampai. Dari perjalanan jauh. Selama entah berapa lama berdiri dan diam di tempat, sedang pikiranmu memanjat tebing-tebing batu cadas. Matamu nun jauh di puncak pohon cemara memantau setiap atap yang semakin hari semakin lapuk semakin hitam semakin berlumut. Setelah menemukan fokus, matamu berlari menuju satu, mendobrak rumah tanpa pintu. Sia-sia, tak ada yang didobrak.

Namun, BRAK!

Dari atas, entah dari langit atau hanya sekadar dari langit-langit benda jatuh. Hitam. Panjang. lebar. Besar. Kamu tak tahu apa itu. Maka ambil jarak. Untuk tahu apa itu, barangkali indah. Ya, kadangkala keindahan memang tak bisa dilihat dari dekat. Seperti gunung, yang baru bisa kamu sebut gunung, baru bisa kamu sebut indah, baru bisa kamu sebut gunung indah, jika kamu melihatnya dari jauh. Mengambil jarak. Jika tak ada jarak, atau mungkin kamu di dalamnya, barangkali kamu tidak tahu kamu sedang menjejak tanah pegunugan.

Dari gunung, kembali ke benda hitam panjang lebar besar, yang jatuh itu. Sehabis lelah berlari, matamu terbang membumbung ke atas, melihat semuanya dengan harapan lebih jelas.

PANGGUNG! Kata bibirmu.

Apa? Panggung? Menurut penglihatan matamu, Panggung itu mampu memuat volume tubuhmu. Mata kembali ke bawah. Lalu, DUK! Gelap seketika. Ah! Bagaimana ini? Kita terjebak! Bagaimana kita bisa keluar? Berpikir berpikir berpikir!

THINK OUT OF THE BOX!

Ah, ya! Mari! Detik menit jam hari minggu bulan tahun kemudian otak berputar bergelinding di tengah roda-roda gila. Kamu, kamu, ya kamu! Aku sudah berpikir keluar dari kotak tapi mengapa aku tetap tak dapat keluar?

Bodoh. Kamu berpikir tapi tak merasa. Kamu berpikir tapi tak melihat. Coba lihat, ini baru satu kotak. Asal kamu tahu, di depan masih ada 99 kotak lagi.

No comments:

Post a Comment