4.10.10

Malam ini saya terlalu lelah untuk melanjutkan kisah-kisah yang telanjur dibuat. Mungkin esok baru akan saya lanjutkan kembali. Entahlah. Segala macam pikiran berkecamuk, tidak hanya di dalam kepala, tapi juga di dalam dada. Dan lagi-lagi berlari menuju mata.

Ini bukan seperti buku dongeng. Yang terdiri atas tumpuan kertas indah, menarik, dan penuh warna. Tidak membuat orang-orang tertarik dan ingin tahu. Ingin menggerakkan lehernya lalu melihat betapa menariknya dongeng itu.

Ini seperti tumpukan benang kusut. Bayangkan saja. Benang kusut. Bertumpuk. Sudah kusut, bertumpuk pula. Melihatnya saja, ogah. Apalagi ikut terjerumus dalam lilitan-lilitan benang yang kemudian akan membawa pikiranmu pada kekusutan yang tidak kalah kusutnya dengan si benang kusut?

Kalau mau saya bicara, kemuakkan itu takkan ada habisnya. Kau yang tidak mau ini. Kau yang tidak mau itu. Baiklah. Saya kerjakan semuanya. Sendiri. Walau saya bukan sosok yang mandiri. Sekali ini kukatakan, terserah. Kalau kau tidak peduli. Saya bisa lebih dari itu. Namun, saya tak mau.

Saya benar-benar lelah. Muak. Namun, saya tak akan mengucap kutuk-pastu pada sesuatu yang tidak berguna. Saya pun tak akan membagi kesedihan denganmu. Yang pasti, juga kebahagiaan.

Saya tahu. Kita lelah. Semua lelah.

Mari. Kita lihat. Apakah besok saya memang harus benar-benar berjuang sendiri demi kalian.

Di sini terlalu bau. Jijik.




Sja. Ruang, 4 Oktober 2010.

No comments:

Post a Comment