Showing posts with label fiksimini. Show all posts
Showing posts with label fiksimini. Show all posts

28.8.10

SENJATA API

Perampok menyerah.
Koreknya habis.


22 Agustus 2010.

24.8.10

BERTAMU

Tak sadarkan diri. Almarhum kakek bertamu ke tubuhnya.


Sja. 23 Agustus 2010.

TERKUNCI

terkunci. aku tak bisa masuk ke luar.


sja. teras, 24 agustus 2010.

16.8.10

KIAMAT

Makan pagi. Makan siang.
Makan sore. Makan malam.
Kenyang.
Matahari sudah tak tersisa lagi.


Sja. 16 Agustus 2010.

MENU

ia tidak makan malam.
takut habis diganti pagi.


Sja. 16 Agustus 2010.

HARGA MATI

ia tak bisa berkutik.
mayatnya dibeli.

Sja. 16 Agustus 2010.

15.8.10

TAKUT

Dulu ia takut pada setan.
Sekarang ia takut pada cermin.


Sja. 15 Agustus 2010.

24.7.10

zzz.

saat belajar di dalam kelas

seorang murid merasa tidak jelas

bertanya ia dengan muka memelas

sang guru jadi bingung

bukan garuk kepala ia malah garuk punggung

sang guru jadi linglung

ia gigiti jari bagian ujung

ini pertanyaan ada begitu sulit

membuatnya tak bisa berkelit

ini pertanyaan ada begitu melilit

membuatnya jadi sembelit

pandangannya semakin gelap

bicaranya semakin gagap gelagap

napasnya semakin megap-megap

tubuhnya semakin dingin berkeringat

wajahnya semakin pucat

pucat pasi--ibarat nasi; ia basi

tak mampu menjawab sang guru berlari kabur

kabur hingga jatuh tersungkur

sang murid menatap terpekur

"guru, bangun. jangan ngelindur."




sja. 11 juli 2010.

15.5.10

pertemuan

ada yang istimewa kali ini. akan ada sebuah pertemuan.

rambutcoklatnya ia biarkan mengurai, tergerai.
batang merahmuda menyentuh bibirtipis, dan semakin manis.
ia tidak memakai perona agar terlihat cerah,
reaksi kimia dalam tubuhnya sudah cukup membuat pipinya merah.

kakikaki mungilnya menapaki tanah bererumputan dengan santai, lemah gemulai.
matanya kemudian bertemu pandang dengan bangkutaman.
dihampirinya, didudukinya.

jantungnya tibatiba kencang berdegup, ia gugup.

awan tak lagi berwarna putih, langit pun sudah tak lagi biru.
namun, ia tetap setia menunggu.
menunggu yang ditunggu.
yang ditunggu sangat ditunggutunggu.

ia sudah tak peduli dengan hitampekat yang melekat di matanya.
ia sudah tak peduli dengan angindingin yang merajam tubuhnya.
ia sudah tak peduli dengan gemuruh yang meraungraung di telinganya.

daundaun gugur, angin menegur, "yang kau tunggu sebentar lagi datang. bersiaplah."



sja. ruang, 15 mei 2010.

2.5.10

Sedang Tidak Sadar

Sesungguhnya banyak yang harus saya pikirkan. Banyak hingga saya bingung dan bengong. Bagaimana jika dimulai dengan satu kata? Ya. satu kata saya kira cukup. Namun, semudah itukah?

Sesungguhnya banyak yang harus saya katakan. Banyak hingga saya kelu dan terpaku. Bagaimana jika dimulai dengan satu kata? Ya. Satu kata saya kira cukup. Namun, semudah itukah?

Sesungguhnya banyak yang harus saya lakukan. Banyak hingga saya tidak mengerti harus memulai dari mana. Bagaimana jika dimulai dengan satu kata? Ya. Satu kata saya kira cukup. Namun, semudah itukah?

"Sesungguhnya kamu tahu apa yang kamu pikirkan, katakan, dan lakukan. Hanya saja, kamu tidak benar-benar tahu bahwa kamu sedang melakukan ketiganya dalam waktu bersamaan".


Sja. Ruang, 2 Mei 2010.

14.3.10

memo pembelaan (3)

kau yang busuk!
bukan aku!


tertanda,



lidah



140310

memo pembelaan (2)

sebegitu tajamnyakah aku
sampai-sampai
kau tuduh aku
yang melukai hatinya?


tertanda,



aku yang tajam seperti pedang



140310

memo pembelaan (1)

mengapa selalu aku
yang kau kambinghitamkan
setiap kali kau mengucap salah!


tertanda,



aku yang tak bertulang



140310

ampas

segelas kopi baru saja
diletakkan di atas meja

didiam-diam
ditiup-tiup
supaya hangat suam-suam
supaya sedap dihirup

dua menit kemudian
kopi itu diseruput

dua belas menit kemudian
kopi itu diteguk

dua puluh menit kemudian
orangnya semaput
kena rabies digigit guguk

140310


27.2.10

Ada yang...

Ada yang sembunyi di dalam lemari.
Mengintip dari celah sebesar jari.

Ada yang berlari ke arah lemari.
Tengok kanan tengok kiri.

Ada yang sembunyi di bawah ranjang.
Menguping desahan malam panjang.

Ada yang turun dari ranjang.
Berjalan meninggalkan si bujang.

Ada yang sembunyi di balik selimut.
Meringkuk sambil cemberut.

Ada yang menyibak selembar selimut.
Hidungnya mengkerut, mencium bau kentut.

22.2.10

lepas

pada suatu hari yang naas

hari siang begitu panas

matahari mengganas

diiringi tembang lawas

penembus watas

menghembuskan akhir nafas

.

300409