Showing posts with label bookreview. Show all posts
Showing posts with label bookreview. Show all posts

26.9.16

Catatan untuk Sang Anak Detektif

The Detective's Son by Sang-Hee Choi (Dok. Pribadi.)

Ini cerita tentang Go Giwang, anak yang baru saja lulus SD dan harus menerima kenyataan pahit bahwa dia akan ditinggal ibunya. Katanya, ibunya akan pergi ke Afrika karena tugas. Ya, begitu katanya. Namun, kenyataan yang lebih pahit adalah dia harus tinggal bersama ayahnya, yang bekerja lepas--kalau tak mau dikatakan pengangguran. Hmm, sepertinya ibu Go Giwang pergi karena tak tahan hidup bersama ayahnya. Entahlah.

Demi bertahan hidup, sang ayah menyewa sebuah rumah yang ya begitulah, membuka kafe bernama The Adventure of the Christmas Pudding. Jangan bayangkan di sana akan ada petualangan puding Natal, menu puding pun tak ada. Tak cuma itu, ayahnya yang menyukai cerita detektif ini pun nekat membuka biro detektif. Biro Detektif Go Myung Dal. Sungguh percaya diri.

Kasus yang ditangani biasanya cuma kucing atau anjing hilang. Tapi suatu hari, ada seorang klien yang meminta mereka untuk mencari adiknya, lebih tepatnya kunci keberuntungan milik adiknya. Sayang, di tengah penyelidikan, sang adik justru tewas. Jatuh dari atap sekolah.

Sudah, tak perlu dilanjutkan lagi ceritanya.

Ah, meski tak dilanjutkan, pembaca pasti tahu kalau akhirnya kasus itu terkuak juga. Case closed.

Ibarat orang makan, membaca cerita detektif bisa membuat kita serdawa di akhir. Melegakan, memuaskan. Namun, tentu "gurihnya" cerita detektif justru terletak pada setiap perjalanan sang detektif untuk membongkar kasus yang ia hadapi. Pada setiap sebab-akibat.

Sang penulis, Sang-Hee Choi, mengajak kita untuk melihat tren bunuh diri di Korea, terutama di kalangan pelajar. Salah satu penyebabnya adalah bullying.  

Menariknya, pengintimidasian Oh Yuri--tokoh yang di-bully dalam novel ini--terjadi karena Oh Yuri mendapatkan keberuntungan, The Only Luck Key. Padahal sebelumnya, Yuri adalah anak yang menyenangkan. Tidak ada alasan untuk membencinya. Ia juga bukan anak lemah yang berlabel "enak di-bully". Namun sayang, keberuntungan yang ia dapat justru membawa ketidakberuntungan. Entah iri dengki macam apa yang membuat ia dijauhi, bahkan ditindas. 

Sendiri, lalu depresi. Diam saja, bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Padahal segala bentuk penindasan itu nyata di depan mata. Sampai akhirnya memilih untuk mengakhiri segalanya.

Begitulah. Setiap orang punya masalah sendiri-sendiri yang tak perlu disebutkan seberapa ringan atau seberapa berat. Banyak yang memilih untuk meninggalkan masalah dengan meninggalkan dunia. Namun, banyak pula yang mengakrabi masalah itu, belajar hidup dengannya, serta bersabar dan bersetia dengannya. Kita tak pernah tahu bagaimana usaha mereka untuk tetap tertawa, untuk menutupi luka. Mungkin itulah yang harus kita pelajari.

Untungnya, novel ini tak selamanya menawarkan ketegangan. Interaksi antara ayah dan anak ini justru jadi hiburan yang mengiris hati. 

“Kau sudah makan, kan?” 
Ayah bertanya dengan wajah seakan dia ketahuan diam-diam menghabiskan mi sendirian. “Kebetulan minya tinggal satu. Kau sudah makan, kan?” 
Anak pulang malam masa ditanya begitu? Bukankah Ayah yang normal harusnya tetap menyuruh makan meski dijawab sudah makan? 

(hlm. 128) 

Go Giwang harus menghadapi ayahnya yang tidak ingin punya pekerjaan tetap seperti orang-orang. Ayah yang ditinggalkan istrinya. Ayah yang ingin jadi "detektif kursi malas" seperti Sherlock Holmes, tapi sepertinya ia malas-malasan jadi detektif. Ayah yang kelakuannya tidak seperti seorang ayah. Sebenarnya siapa yang anak siapa yang ayah?

Walah, lanturannya panjang juga.

14.3.16

Dilan dan Segelas Es Teh Manis


“Bu, es teh manisnya satu,” kataku.

Nggak lama kemudian, datanglah segelas es teh manis. Gulanya udah diaduk. Rasanya: nggak terlalu manis, nggak kurang manis juga. Pas. Menurutku. Enak. Seger.

Lagi asik-asik minum, eh, ada orang dateng.

“Kenalin, aku Dilan.”

Aku bingung. Siapa lu? kataku. Tapi dalam hati aja. Jadi nyatanya ya aku diem aja. Nggak enak gitu lho kalo diomongin. Hehe.

Dia cerita panjang lebar. Aku sih nyimak aja.

Dia bilang, waktu tahun 90-an, dia punya pacar, namanya Milea.

Dia cerita gimana dia pertama kali ketemu Milea.

Dia cerita waktu kasih kado ulang tahun Milea: buku TTS. Katanya: Selamat ulang tahun, Milea. ini hadiah untukmu, Cuma TTS. Tapi sudah kuisi semua. Aku sayang kamu. Aku tidak mau kamu pusing karena harus mengisinya.

Dia cerita juga soal cemburu. Katanya: Cemburu itu cuma buat orang yang nggak percaya diri. Nyatanya, waktu itu dia juga nggak percaya diri. Hihi.

Dan Dilan cerita tentang yang lain.

Setelah dia ngalor-ngidul, akhirnya aku beraniin ngomong ke dia.

“Dilan, kamu kayak es teh manis ini. Manis. Pas. Nggak lebih, nggak kurang. Diminum pas lagi haus. Tegukan pertama bikin seger. Begitu abis, pengen nambah lagi. Aku nggak kenal kamu. Tapi waktu aku denger cerita kamu, nggak tahu kenapa kayaknya menarik. Dan aku tertarik. Ceritamu bikin aku senyam-senyum sendiri. Ya, sendiri aja nggak ngajak kamu. Jadi ngayal. Ah, aku jadi pengen punya orang kayak Dilan.”

“Lho, kamu juga punya Dilan, tapi namanya bukan Dilan. Hehe.”

Yayayayakson!



"Alhamdulillah, setelah mengikuti pijat tangan akupunktur ala Yakson, bapak udah ga pusing lagi. Terima kasih, Yakson." (Pak Haji di Depok)

"Cegukan, pusing, flu, demam, sakit perut... Hmmm, kalau sakit, jangan dikit-dikit minum obat dikit-dikit minum obat, minum obat kok dikit-dikit... Ehehe, gak deng. Coba pijat tangan ala Yakson! Because Yakson is a PUNK rocker, eh salah, Yakson is a akuPUNKter dokter, heheheheh~" (Anak Pak Haji di Depok, abis disuruh mijitin)




Kalau mau, boleh klik web Penerbit BIP lho!