Namun, tidak dapat saya pungkiri kalau saya merasa miris melihat komedi yang satu ini. Dan mungkin tidak hanya acara ini, mungkin juga pada acara-acara komedi yang lain karena pada kenyataannya banyak pula pengekor acara komedi macam ini. Ya, saya merasa miris karena sekarang kekerasan telah menjadi bahan tertawaan yang lumrah. Mungkin tidak banyak yang menyadarinya, tetapi saya yakin, banyak pula yang menyadari hal ini.
Kalau boleh saya memakai istilah yang sering dilontarkan sang dalang di acara tersebut, yakni benang merah, mungkin tidak terlalu berlebihan jika saya menarik satu benang merah yang merahnya begitu mencolok dari acara ini, yaitu: KOMEDI SARKASME.
Sarkasme tidak hanya terlihat dari lawakan-lawakan verbal, yakni kata-kata yang dilontarkan, tetapi juga dari tindakan yang mereka lakukan. Pukulan, adalah salah satu adegan kekerasan yang sering dilakukan. Ketika adegan pukul-memukul (dengan menggunakan properti) itu terjadi, memang ada keterangan bahwa properti yang digunakan terbuat dari bahan yang tidak berbahaya (styrofoam). Namun, mengapa tidak ada keterangan bahwa adegan itu berbahaya?
Setelah sukses, acara tersebut pun seolah melebarkan sayapnya. Anak-anak, kini menjadi wayangnya. Ya, muncul acara baru dengan format yang sama, yaitu Opera Anak. Oke, bisa kalian bayangkan? Opera van Java versi 'wayang miniatur'? Ah, tidak-tidak. Terlalu ekstrem jika saya menyebutnya demikian karena tentu saja kapasitas lawakan--dan sarkasmenya tentu--tidak sama dengan Opera van Java.
Jika kita berada di dunia pendidikan, anggaplah Opera Anak setara dengan Sekolah Dasar dan Opera van Java adalah Perguruan Tinggi. Ya, anggap saja demikian. Anggap saja munculnya Opera Anak adalah sebuah wadah baru bagi anak-anak untuk mengembangkan bakat melawaknya. Ya, anggap saja demikian. Walaupun pada akhirnya akan sangat berat mengakui bahwa anggapan demikian hanyalah tameng untuk melindungi sarkasme itu sendiri.
Entahlah, apakah saya patut menyebutnya sebagai sarkasme terselubung atau tidak. Terselubung, atau apalah istilahnya itu. Yang jelas saya merasa jika sarkasme itu seperti dilapisi, diselimuti, dan dilindungi oleh payung 'komedi'. Dan atas segala kekerasan yang telah dilakukan, mereka berdalih: CUMA BERCANDA.
Dalam kondisi ini, sepertinya sarkame sudah tidak dianggap sarkasme lagi. Asalkan menghibur orang, persetanlah dengan istilah sarkasme itu, yang penting hati senang.
Oke. Saya pun tidak ingin menjadi manusia sok suci jika saya mengatakan saya tidak suka dan tidak tertawa terbahak-bahak melihat kelucuan-kelucuan yang ada. Saya sering tertawa melihat adegan demi adegan yang dilakoni para penampilnya. Namun, seperti yang sudah saya katakan sebelumnya: ada kemirisan dalam diri saya.
Hmm.. Apakah saya terlalu berlebihan? Bukannya saya sok idealis atau sok perfeksionis; menginginkan satu tayangan yang baik secara moral untuk masyarakat. Namun, siapa yang tidak ingin demikian?
Sja. 22 Agustus 2010. 5:00 am--6:25 am.
No comments:
Post a Comment