begitulah kerangka yang telah kau susun,
kemudian remuk satu persatu
yang kausisakan kini hanyalah puing-puing kelabu
dalam satu sapuan; mereka masuk dalam tempat sampah
jalan memang tak ada yang rata
semua berkerikil-kerikil kecil
ketika ia bercabang; demikian
terjadi pula dalam benakmu
tak pernah kauhiraukan
pucuk-pucuk yang menjelma dalam kabut
tak pernah kauhiraukan
embun-embun yang bersinar dalam gelap
tak akan pernah kau hiraukan pula
mata air yang muncul di atas kulitmu
mungkin ini hanya sekedar penyegar
entah nyata atau khayalan tentang khayangan belaka
sja. ruang, 22 agustus 2010.
No comments:
Post a Comment