Suatu siang yang teduh dalam ruang dengan terang, selembar kertas melayang dan terjatuh.
Lalu suara datang bertanya, apa yang kau mengerti dari semua ini? Kami mencoba mengerti dan memaknai. Beberapa pikiran, entah terlepas, entah mencuat: pencarian Tuhan?
Suara satu bicara, "Tuhan tidak ada." Suara dua bicara, "Tuhan ada dalam diri kita." Suara tiga bicara, "Tuhan ada di mana-mana. Bukan sesuatu yang dikonsepkan." Dan suara yang lain. Dan suara yang lain, bicara tentang Tuhan. Dari sudut pandang manusia. Tuhan itu... Tuhan itu... Ah, Tuhan. Kami manusia.
Di antara suara-suara yang bersiar, ada satu yang tetap diam, meringkuk dalam hati.
"Manusia sering mempertanyakan kemanusiaan. Pernahkah Tuhan mempertanyakan ketuhananNya? Tidak, tidak, ini bukan keraguan. Ini sekadar pertanyaan. (Silakan jika menganggap ini pertanyaan kotor. Tidak peduli aku). "
"Aku adalah Tuhan dalam duniaku. Dunia yang kuciptakan. Tuhan adalah aku."
(Namun tiba-tiba seperti ingin tertawa keras. Di atas langit(-langit) masih ada langit. Kalau kamu Tuhan, berarti di atasmu masih ada Tuhan. Haha... Manusia.)
***
Ssst... Jangan berulang mengucap Tuhan tanpa jeda. Tuhantuhantuhantuhantu...
(Terima kasihlah pada pencipta jarak). Tuhan. Tuhan. Tuhan.
***
Lalu suara bertanya lagi. "Apa yang kau rasakan ketika kau jatuh cinta pada orang lain?" Lalu kubilang. Jatuh cinta. Rindu. Sering mencarinya. Lalu suara bertanya lagi. "Seperti itukah ketika kau jatuh cinta pada Tuhan?" Lalu hening. Apakah ya? Rasanya terbalik. Sering mencariNya. Namun apakah itu rindu? Bagaimana jatuh cinta? Tahu kamu?
Bibir mengulum senyum: Apakah pernah jatuh cinta pada Tuhan?
"Meditasi" menginsipirasi saya. Abdul Hadi W. M.
MEDITASI
I
Kupeluk sinar bulan. Tubuhku kedinginan.
Di gerbang cahaya yang berkilauan akan segera nampak di depan kita
sebuah gereja tua. Ketika lonceng berbunyi beribu burung terbang ke
sana hendak mensucikan diri. Sebab selalu ditempuhnya jalan yang
sama, selalu dinyanyikannya lagu yang sama dan sesat di sarang yang
sama.
Lalu kita dengar paduan suaranya. Seperti deru angin di pantai.
"Demi Jesus, pahala sorga kenikmatan, akan kami hapuskan
dosa kami seluruhnya," begitu nyanyian mereka. "Tuhan, pujaan Ayub
dan Yusuf, gembala Musa dan Muhammad -- bentangkanlah pada
kami jalan yang benar dari aroma bintang dan buah-buahan."
O, burung-burung, sudahkah kau baca Farid Attar?
Yerusalem dan Mekkah tidak seluas hati dan jiwa ini.
Pohon-pohon rindang lebat tumbuh juga dalam hatimu.
Nyanyikanlah itu sepanjang pagi dan sore.
II
Di sini semenjak lama aku adalah seorang rahib yang mengheningkan
cipta dalam sebatang kayu.
Kebenaran kudapat dari embun dan mawar.
Abadi.
Seperti ciuman perempuan dan bintang-bintang.
Tapi perempuan tua ini selalu merayuku dan minta aku menyusu pula
hingga kering dan mandul teteknya.
Itulah dunia.
III
Akupun sudah letih naik turun candi, ke luar masuk gereja dan mesjid.
Tuhan semakin sempit rasa kebangsaannya.
"Musa! Musa! Akulah tuhan orang Israel!" teriaknya.
Di mesjid, di rumah sucinya yang lain ia berkata pula:
"Akulah hadiah seluruh dunia, tapi sinarku memancar di Arab."
Aku termenung. Apa kekurangan orang Jawa?
Kunyanyikan Bach dalam tembang kinanti dan kupulas Buddha jadi
seorang dukun di Madura.
Aku menemu sinar di mata kakekku yang sudah mati.
bila hari menahun dan kota jadi benua, aku akan bikin negeri di sebuah
flat karena akupun adalah rumah-Nya.
IV
Bercakap-cakap dari pintu ke pintu. Bernyanyi dari pintu ke pintu.
Mengetuknya berkali-kali. Sudah lama aku tak tahu di mana Dia
sebenarnya, di mesjid, di kui, ataukah gereja.
Pernah aku percaya benar pada cinta dan kebijaksanaan yang jauh dari
kemauanku sendiri. Kata mereka, "Berbaiklah kepada semua orang
dan berjalanlah di jalan yang suci!" Bagai seekor keledai au pun
melenggang membawa beban berisi hartanya dan sampai di sebuah
gurun.
Kafilah tidak bsa menunjukkan jalan lagi. Kami berpisah tengah
malam. Bintang-bintang berloncatan gembira di langit yang tinggi.
Tapi di tengah kelaparan dan panas aku pun menjelma seekor singa.
Aku tak mau lagi mendengarkan khotbah dan nasehat. Sakramenku
ialah ketiadaan. Sahabatu perobahan yang terus menerus. Dan kota
suciku ialah hati. Kalau di menara itu nanti kuteriakkan azan cacing-
cacing akan berkumpul mendatangiku di waktu magrib bersembahyang
berzikir mendoakan ketentraman dunia yang baru.
V
Tidak. Sebaiknya kau datang saja di sore hari di saat aku bercermin.
Tapi jangan lagi mewujud atau menjelma.
Tuhan, siapakah namaMu yang sebenarnya? Dari manakah asalMu?
Apakah kebangsaanMu? Dan apa pula agamaMu?
Manusia begitu ajaib. Mereka pandai benar membuat ratusan teori
tentang Aku dengan susah payah. Tapi siapa Aku yang sebenarnya
Aku sendiri pun tidak pernah tahu siapa sebenarnya Aku, dari mana
dan sedang menuju ke mana.
1974
Lalu suara datang bertanya, apa yang kau mengerti dari semua ini? Kami mencoba mengerti dan memaknai. Beberapa pikiran, entah terlepas, entah mencuat: pencarian Tuhan?
Suara satu bicara, "Tuhan tidak ada." Suara dua bicara, "Tuhan ada dalam diri kita." Suara tiga bicara, "Tuhan ada di mana-mana. Bukan sesuatu yang dikonsepkan." Dan suara yang lain. Dan suara yang lain, bicara tentang Tuhan. Dari sudut pandang manusia. Tuhan itu... Tuhan itu... Ah, Tuhan. Kami manusia.
Di antara suara-suara yang bersiar, ada satu yang tetap diam, meringkuk dalam hati.
"Manusia sering mempertanyakan kemanusiaan. Pernahkah Tuhan mempertanyakan ketuhananNya? Tidak, tidak, ini bukan keraguan. Ini sekadar pertanyaan. (Silakan jika menganggap ini pertanyaan kotor. Tidak peduli aku). "
"Aku adalah Tuhan dalam duniaku. Dunia yang kuciptakan. Tuhan adalah aku."
(Namun tiba-tiba seperti ingin tertawa keras. Di atas langit(-langit) masih ada langit. Kalau kamu Tuhan, berarti di atasmu masih ada Tuhan. Haha... Manusia.)
***
Ssst... Jangan berulang mengucap Tuhan tanpa jeda. Tuhantuhantuhantuhantu...
(Terima kasihlah pada pencipta jarak). Tuhan. Tuhan. Tuhan.
***
Lalu suara bertanya lagi. "Apa yang kau rasakan ketika kau jatuh cinta pada orang lain?" Lalu kubilang. Jatuh cinta. Rindu. Sering mencarinya. Lalu suara bertanya lagi. "Seperti itukah ketika kau jatuh cinta pada Tuhan?" Lalu hening. Apakah ya? Rasanya terbalik. Sering mencariNya. Namun apakah itu rindu? Bagaimana jatuh cinta? Tahu kamu?
Bibir mengulum senyum: Apakah pernah jatuh cinta pada Tuhan?
"Meditasi" menginsipirasi saya. Abdul Hadi W. M.
No comments:
Post a Comment