sejujurnya saya adalah diri yang tidak percaya dengan ungkapan "jadilah dirimu sendiri".
harus kita akui, apa yang ada dalam diri kita juga adalah diri orang lain. tak pernah ada murni dirimu sendiri.
kita tak pernah menjadi diri kita sendiri.
untuk menjadi orang yang baik, kau harus menuruti menaati mengikuti; bergerak-gerik sesuai dengan kosep kebaikan. kemudian kau akan dianggap tidak baik jika kau sedikit saja bersinggungan dengan sesuatu yang dianggap tidak baik.
ya, seringkali kita perlu mengambil bagian dari diri orang lain yang bersifat positif agar aura positif juga terpancar dari diri kita.
saya, kamu, kita adalah manusia-manusia yang berhubungan dengan sosok yang kau percayai (kau dapat menyebutnya tuhan), berhubungan dengan manusia-manusia lain, berhubungan dengan hewan, berhubungan dengan tanaman, berhubungan dengan air, kayu, logam, udara, tanah, api, batu. dan kita adalah manusia yang berhubungan dengan hati, diri kita sendiri.
se-antisosial apakah dirimu sehingga tak pernah mengenal suatu proses yang disepakati bernama "interaksi"?
jika kita menjadi diri kita sendiri, seharusnya tak ada ajektiva baik dan buruk. tak diperkenankan ada perasaan senang atau sedih.
jika kita menjadi diri kita sendiri, tak akan ada batas. semua ingin bebas.
entah apa jadinya jika semua orang menjadi dirinya sendiri. --mungkin tak pernah ada kehidupan.
(ingat, sekecil apa pun dirimu adalah seorang vandalis).
No comments:
Post a Comment