Kelemahan terkuat pada diri saya adalah kebingungan dalam menentukan pilihan.
Mengapa saya harus memilih?
Siapa yang salah?
Saya yang bingung?
Atau pilihan yang sulit?
"Siapa yang salah?" Hmm.. Namun sepertinya kata 'salah' tidak pas dalam konteks ini tetapi saya tidak menemukan kata lain lagi untuk dijaikan sebagai hakim pada persidangan ini.
Mungkin--atau pasti--orang-orang akan menyalahkan saya, saya yang bingung dan selalu bingung. Namun, saya tentu tidak akan bingung dan semakin bingung jika pilihan-pilihan sulit tidak lahir ke muka bumi.
Bukannya saya tidak suka pada pilihan. Saya suka. Amat sangat suka sekali. Lagi-lagi, asalkan tidak membingungkan tentunya. Tetapi apa ada pilihan yang tidak sulit dan membingungkan? Ya, ada. Sangat ada. Jika Anda dihadapkan pada pertanyaan "pilih surga atau neraka?", tentu saja otak Anda akan segera mengomandokan alat ucap Anda untuk mengucapkan kata surga. Namun apa jadinya jika Anda dihidangkan buah simalakama; dimakan ayah mati, tidak dimakan ibu yang mati?
Namun, mungkin tidak seekstrim itu.
Kebingungan untuk memilih dalam kebebasan. Keterserahan. Itulah yang paling sulit.
No comments:
Post a Comment